top of page

6 Persepsi Keliru Tentang Teknologi RFID dan Faktanya

  • Gambar penulis: Marketing Tudi
    Marketing Tudi
  • 29 Des 2025
  • 3 menit membaca
Gambar seorang pekerja dengan rimpi warna orange dan helm proyek warna kuning dengan ekspresi bingung pada sebuah gudang dengan rak tinggi dan logo RFID.  Terdapat Logo bertuliskan Tudi pada pojok kiri atas

RFID sering dipersepsikan sebagai solusi instan yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan operasional hanya dengan satu kali pemindaian. Karena terlihat modern dan praktis, tidak sedikit yang membayangkan bahwa proses inventaris, pelacakan aset, hingga audit stok dapat berjalan otomatis tanpa persiapan tambahan. Pada kenyataannya, RFID bukan teknologi yang bekerja tanpa fondasi.


RFID adalah sistem identifikasi yang kinerjanya sangat bergantung pada kesiapan data, kedisiplinan proses penempelan tag, serta alur kerja yang dirancang secara jelas dan konsisten. Berbagai kesalahpahaman inilah yang kerap membuat implementasi RFID dinilai tidak sesuai harapan, padahal akar masalahnya sering kali terletak pada ekspektasi awal, bukan pada teknologinya.


1. Sekali scan RFID langsung tahu jumlah barang dan SKU

Banyak yang mengira RFID dapat langsung menghitung jumlah barang sekaligus menampilkan daftar SKU hanya dengan satu kali scan. Dalam praktiknya, RFID hanya membaca identitas unik yang tersimpan di dalam tag.


Agar identitas tersebut berubah menjadi informasi inventaris yang bermakna, setiap barang harus ditempeli tag RFID dan ID tag perlu dipetakan ke data seperti SKU, nama produk, atau nomor aset di dalam sistem. Tanpa proses tagging dan pemetaan data, hasil pembacaan RFID tidak akan memberikan nilai nyata bagi operasional.


2. RFID dapat mengenali barang tanpa registrasi data

RFID sering disangka mampu mengenali jenis barang secara otomatis, seolah-olah sistem dapat ā€œmenebakā€ produk apa yang sedang dibaca. Kenyataannya, RFID tidak mengenali barang, melainkan hanya membaca kode unik pada tag.


Kode tersebut baru memiliki arti setelah diregistrasikan ke dalam master data. Karena itu, kualitas dan kerapian data awal sangat menentukan apakah RFID akan membantu operasional atau justru menghasilkan data yang sulit diinterpretasikan.


3. Semua item RFID pasti terbaca mulus dalam satu kali pembacaan

Ekspektasi ini sering muncul karena RFID dianggap ā€œpasti kebacaā€ di mana pun tag ditempel. Padahal, hasil baca RFID dipengaruhi banyak faktor seperti posisi tag, orientasi barang, jarak baca, dan kondisi area saat proses scanning.


Selain itu, permukaan barang juga sangat berpengaruh. Logam dan cairan dapat mengganggu performa pembacaan, sehingga penempatan tag tidak bisa asal tempel. Karena itu, RFID umumnya membutuhkan penyesuaian sederhana dan uji coba agar pembacaan stabil sesuai kondisi operasional nyata.


4. Reader RFID saja sudah cukup tanpa sistem pendukung

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa membeli reader RFIDĀ berarti sudah memiliki sistem RFID yang lengkap. Padahal, reader hanya berfungsi untuk menangkap data hasil pembacaan tag.


Agar data tersebut bernilai, diperlukan sistem atau software yang mampu menyimpan, mengolah, dan menerjemahkan hasil scan menjadi aktivitas operasional, seperti barang masuk, barang keluar, atau perubahan status stok. Tanpa sistem pendukung, data RFID cenderung berhenti sebagai data mentah.


5. RFID otomatis menghilangkan seluruh pekerjaan manual

RFID memang dirancang untuk mengurangi pekerjaan manual dan menekan kesalahan manusia. Namun, hal ini tidak berarti seluruh proses manual dapat dihapus sepenuhnya.

Aktivitas seperti penempelan tag, registrasi item, serta penanganan kondisi pengecualian tetap dibutuhkan. RFID bekerja optimal ketika mendukung proses yang sudah terdefinisi dengan baik, bukan menggantikan proses yang sejak awal belum tertata.


6. Implementasi RFID cukup tempel tag lalu langsung berjalan

Kesalahpahaman ini sering membuat implementasi RFID terasa mengecewakan di tahap awal. Pada kenyataannya, RFID memerlukan perencanaan sederhana namun krusial.

Mulai dari pemilihan jenis tag, posisi penempelan, aturan registrasi data, hingga bagaimana hasil scan diterjemahkan menjadi kejadian operasional yang benar. Tanpa perencanaan ini, RFID dapat terlihat tidak konsisten dan menimbulkan kesan bahwa teknologinya tidak akurat.


Kesimpulan

RFID bukan teknologi instan yang bekerja tanpa persiapan. Agar memberikan manfaat nyata, RFID harus didukung oleh proses tagging yang disiplin, data yang rapi, dan alur kerja yang jelas.


Ketika ketiga aspek ini dipenuhi, RFID dapat menjadi fondasi otomasi yang kuat untuk meningkatkan akurasi inventaris, mempercepat stock opname, dan memperbaiki visibilitas operasional.


Sebagai penyedia solusi RFID end-to-end, TUDIĀ siap membantu Anda merancang dan menerapkan RFID secara realistis dan terukur. Konsultasikan kebutuhan Anda bersama tim ahli TUDI untuk menemukan solusi terbaik bagi bisnis Anda.



Ā 
Ā 
bottom of page